Gelar Adat TuludeTampungan Lawo Jabodetabek

by -

 

Jakarta,-

Gelar Adat Tulude yang dihelat masyarakat Sangihe se-Jabodetabek menjadi perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang diadakan keluarga besar Tampungan Lawo di GOR Jakarta Utara, Sabtu (6/2).

Untuk ketiga kalinya keluarga besar Tampungan Lawo se-Jabodetabek menggelar upacara adat Tulude yang dimeriahkan dengan beragam kesenian musik dan tari-tarian khas Sangihe seperti, Tarian Salo, Gunde, Alabadiri dan Upase.

“Upacara adat Tulude ini dilakukan rutin setiap tahun oleh warga Sangihe se-Jabodetabek. Upacara ini memiliki makna sebagai manusia yang sudah diberikan berkat oleh Tuhan maka sudah selayaknya kita mengucapkan syukur kepada-Nya dan memohon agar di tahun yang baru tuntunan Tuhan menyertai langkah kehidupan kita,” ujar Steven Setiabudi Musa, anggota DPRD DKI Jakarta yang juga tokoh muda Sangihe, yang hadir malam itu.

Diharapkan generasi muda Sangihe dapat melestarikan warisan para leluhur dan menghargai budayanya sehingga tidak kehilangan identitas budaya di tengah terbukanya Indonesia dalam perdagangan bebas, lanjut Steven, yang kini di Komisi E dari Fraksi PDIP.

Sementara Penasihat Keluarga Tampungan Lawo Jabodetabek, Simson Katiandago, menambahkan upacara adat ‎Tulude memiliki tiga makna utama, yakni mensyukuri berkat Tuhan dari tahun yang sudah berlalu, memohon ampun atas kekeliruan dan kesalahan di tahun yang silam, berdoa dan memohon untuk kesuksesan di tahun yang baru‎‎

Disisi lain, Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Pemprov DKI Jakarta, Firmansyah yang hadir sebagai tamu kehormatan, mengaku merasa ‎senang dengan diselenggarakannya upacara Tulude secara rutin tersebut dan berharap dapat memberikan manfaat bagi seluruh warga, karena mengajarkan seluruh manusia untuk selalu bisa bersyukur atas pencapaian masa lalu dan berbuat lebih baik di tahun yang baru.

Bahkan dilaksanakannya upacara adat Tulude di awal tahun 2016 ini bisa menjadi identitas budaya bangsa yang bisa ditampilkan pula di berbagai event olah raga internasional yang akan dilakukan di Indonesia, lanjut Firmansyah.

Karena Jakarta akan menjadi tuan rumah ini perhelatan Olah Raga Masyarakat Dunia, Asian Games, pada 6-10 Oktober 2018 mendatang setelah 58 tahun menunggu. Jadi sudah selayaknya saat dalam pembukaan ataupun penutupan diperkaya dengan tarian ataupun pertunjukan budaya bangsa supaya lebih dikenal dunia, jelasnya.

Kemeriahan dan kekhusyukan terus mewarnai berlangsungnya upacara Tulude 2016, Tampungan Lawo dari warga masyarakat Sangihe se-Jabodetabek. Alunan lagu rohani Kristiani membuka acara tersebut, yang selanjutnya dibuka dengan sambutan Bupati Sangihe yang diwakili Sekda Kabupaten Sangihe.

Upacara adat Tulade pun ditandai pemotongan kue adat Banua, serta beragam lagu daerah dan tarian khas Sangihe seperti Tarian Musurai‎, Tari Alabadiri, Tarian Salo, Tarian Gundae‎, yang dipuncaki dengan jamuan makan malam. Upacara Adat Tulude ini dilaksanakan rutin masyarakat setiap tahunnya pada 31 Januari, sekaligus menandai hari ulang tahun Kepulauan Sangihe. Upacara sangat bersifat religius dan kaya menampilkan budaya asli Sangihe.

Sedikit catatan bahwa Perkumpulan Keluarga ‘Tampungan Lawo’ masyarakat Sangihe se-Jabodetabek mulai dibentuk pada Juni 1986 dan memilki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) pada 12 Agustus 2007. Dimana nama Tampungan Lawo diambil dari sebuah nama kerajaan pertama di Sangihe.

(Ist;mdtj; foto dok Fuad!

Leave a Reply