Edisi Pamungkas JHSF 2020, Ulik Tema ‘Mana Lebih Horor, Rumah Berhantu atau Hutan Angker?

by -

Visualindonesia, Jakarta,-

Perhelatan Jakarta Horror Screen Festival (JHSF) 2020 yang di gelar sejak awal pandemi, Februari 2020, telah mengakhiri masa serunya lewat rangkaian obrolan semi talkshow.

Obrolan ringan dalam perhelatan JHSF pada episode pamungkas #16 ini, mengambil tema, ‘Mana Lebih Horor, Rumah Berhantu atau Hutan Angker?

Dalam episode kali ini, creative director JHSF, Teguh Yuswanto, menghadirkan dua tamu istimewa sebagai narasumber, bintang film dan sinetron Maya Yuniar serta, kritikus film Shandy Gasella.

Film bergenre horor yang mengambil setting rumah dan hutan memang punya daya tarik sendiri, keduanya punya kekuatan berbeda untuk menakuti dan membuat kengerian bagi penontonnya.

Shandy Gasella dan Maya Yuniar

Menurut Shandy, setting film horor dengan lokasi rumah atau hutan, keduanya bisa sama-sama menegangkan atau malah tidak menakutkan sama sekali, semuanya tergantung dari cerita, dan sejauh mana setting atau latar belakang itu menjadi vital bagi film horor tersebut.

“Misalnya nih, kita mesti simpati dulu dengan karakter protagonisnya, siapa dia, sejak awal cerita sebaiknya dijelaskan juga, lalu konfilk apa. Kenapa kita ikut merasa khawatir terhadap karakter tersebut, kalau itu nggak dibangun, menurut saya sih gak ada bedanya mau terornya ada di rumah atau di hutan,” jelas Shandy Gasella.

Shandy melanjutkan, jika penggarapannya bagus, maka filmnyapun akan sangat menarik. Setidaknya film horor juga punya peran penting menjaga stabilitas emosional penontonnya.

Sementara itu aktris Maya Yuniar mengungkapkan pengalamannya saat bermain dalam film horor ‘Kuntilanak Ciliwung’ yang juga menggunakan set rumah untuk memperbanyak scene teror.

“Saat itu aku berperan jadi kutilanak, scene aku banyak menteror para penghuni rumah, tapi aku juga ada scene di sungai Ciliwung,” kenang Maya.

Suasana talkshow Jakarta Horror Screen Festival (JHSF) 2020

Maya juga menceritakan peristiwa ganjil yang dialaminya saat pengambilan gambar seperti lampu yang mendadak padam saat mau take hingga berulang sepuluh kali.

“Terus ada warga di sana yang kebetulan faham dengan wilayah tersebut kasih tahu ke kita, untuk di siapkan kopi pahit dan rokok keretek buat ‘penunggunya’. Begitu katanya, ” papar bintang film ‘Kuntilanak Ciliwung’ dan ‘Mangga Muda’ itu.

Peristiwa seperti ini sering kita dengar saat pembuatan atau pengambilan gambar di lokasi yang ternyata memang penuh gangguan makhluk tak kasat mata.

Jadi, secara film ‘Mana Lebih Horor, Rumah Hantu atau Hutan Angker?’ hanya tinggal bagaimana cerita dalam film tersebut punya kekuatan penuh untuk menyampaikan premisnya.

Jika cerita yang di garap sangat maksimal dan menarik, maka film horor dengan latar belakang cerita hutan angker atau rumah berhantu tersebut sukses menghibur penontonnya.

Para penikmat film horor akan sangat terhibur jika film itu mampu membuat ketakutan, kengerian, kegaduhan dan plot cerita yang masih kompromi dengan akal sehat.

(drel; foto ist

Leave a Reply