Napak Tilas Batin Christine ‘Ngasirah’ Hakim

by -

Visual Indonesia, Jakarta,-

Cukup sering memerankan karakter yang diangkat dari kisah nyata, namun Christine Hakim mengakui butuh waktu mengenal karakter yang hanya ada dalam catatan sejarah itu tidaklah mudah.

Itulah sebabnya dirinya perlu napak tilas batin dan kehidupannya Ngasirah, ibu dari Kartini dan keluarga Sosroningrat, sampai ke Jepara, Rembang, dan Kudus, “Membuat film sejarah seperti merekonstruksi skenario Tuhan. Ada tanggung jawab moral jauh lebih besar dibanding karya-karya lainnya. Itulah sebabnya saya perlu menapak tilas kehidupan Ngasirah, Kartini dan kelurga Sosroningrat sampai ke Jepara, Rembang, dan Kudus. Dan tidak kalah pentingnya, menapak tilas batin Ngasirah dan terutama Kartini,” jelas Christine.

Keseriusan Christine menyiapkan peran Ngasirah terlihat dari intensitas yang dijalaninya. Tugasnya sebagai aktris memahami dan menghidupkan peran yang diberikan. Termasuk bagaimana peran itu hidup, bernafas dan berinteraksi dengan karakter yang lain. Menganalisa Ngasirah dan memahami tokoh-tokoh yang ada di dalam kehidupan Ngasirah, seperti Kartini, Sosroningrat, bagaimana karakternya, bagaimana Sosroningrat di mata saudara-saudaranya, di mata Bupati, di mata Belanda. Kemudian bagaimana Kartini, Kardinah, Kartono dalam kehidupan kesehariannya dan seterusnya, lanjut Christine.

Untuk bisa menghidupkan peran Ngasirah dalam film Kartini, yang disutradarai Hanung Bramantyo serta diproduseri Robert Ronny, Christine tidak tanggung-tanggung. Bahkan dia ikut membersihkan set bangunan yang memang dibangun khusus untuk film Kartini dan berpakaian selayaknya Ngasirah di luar syuting.

Memerankan Ngasirah yang kompleks, lantaran beliau anak seorang Kyai, juga istri pertama Bupati yang berdarah biru. Sehingga memunculkan dilema bagaimana di satu pihak, dia bukan pembantu, di lain pihak status sosialnya di dalam tradisi kehidupan yang harus dia jalani agak lebih tinggi sedikit dari pembantu. Oleh karenanya, riset yang dalam dan serius dilakukan Christine Hakim untuk peran Ngasirah dan tokoh-tokoh lain di film Kartini membuat dirinya semakin mengagumi Kartini.

Dilematika Kartini luar biasa besarnya. Akhirnya Kartini memilih untuk tinggal, tidak menerima beasiswa yang sudah dia dapatkan dari pemerintah Belanda, itu suatu pilihan karena mempertahankan akar budaya bangsa juga penting. Bangsa yang tercabut dari akarnya, maka dia akan goyah. Oleh karenanya harmonisasi menjadi penting bagi Christine, Ini adalah film besar dengan jumlah pemeran yang besar juga. Seperti apa hasil dari orkestrasi indah sebuah film Kartini ini? nantikan di bioskop-bioskop seluruh Indonesia mulai 19 April 2017 mendatang.

(tjo ; foto ist.

Leave a Reply