A Technical Guide to Make Handwritten Batik Membedah Rahasia 'Roso' Batik Tulis Indonesia

by -

 

Jakarta,-

Batik Tulis telah begitu eratnya hubungan dengan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia. Bahkan Batik yang telah menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia, secara industri (Batik non tulis) telah di produksi besar-besaran oleh negara lain dalam bentuk Batik Printing. Namun secara budaya, Batik Tulis Indonesia yang kaya dengan corak dan ragamnya yang khas, tidak bisa ditiru oleh bangsa-bangsa lain. Dan UNESCO telah memberikan hak kepada Indonesia sebagai warisan budaya.

Oleh karenanya Batik harus dipahami bukan hanya sebatas mengenal benda fisiknya yang sudah siap pakai. Tapi harus memahami pula bagaimana proses pembuatan selembar kain Batik itu. Apalagi setelah mengetahui proses terciptanya sehelai kain batik ternyata membutuhkan kesabaran dan pengorbanan.

Untuk memahami bagaimana proses pembuatan Batik Tulis agar tidak kehilangan ‘roso’ dari budaya warisan nenek moyang, Mustar Sidiq, membedahnya secara gamblang, jelas dan terbuka. Tidak hanya mulai dari proses pembuatannya saja, tapi juga dalam meracik warna, membuat ragam hias dan proses motifnya hingga paling rahasia di ‘dunia batik’ yakni resep khusus pewarnaan.

Mustar Sidiq percaya, ketika ilmu Batik Tulis disebarluaskan sesungguhnya kita telah berkontribusi dalam melestarikannya sebagai bagian warisan budaya dunia tak benda lewat jalan mengedukasi masyarakat melalui Panduan Teknik Batik Tulis “A Technical Guide to Make Handwritten Batik”, yang terdiri atas 5 Bab (Proses Pembuatan Batik Tulis; Cara Meracik Pewarnaan; Ragam Hias Isen-Isen Batik; Penjelasan Proses Aneka Macam Batik Berbagai Motif pada Batik Sudah Jadi; dan Resep Pewarnaan dari Berbagai Jenis Zat Warna), 93 Halaman, yang diterbitkan PT.Permata Kreasi Media.

Melalui buku ini, akan menambah kecintaan untuk memiliki Batik Tulis karena menjadi kebanggaan tersendiri lantaran punya segudang cerita dan perjalanannya yang cukup panjang. Jadi masihkah menganggap Batik Tulis sebuah karya budaya yang biasa-biasa saja? Atau hanya sebagai pakaian yang juga biasa-biasa saja?

Semoga menjadi pencerahan bagi siapapun yang membacanya.

(mdjt; foto cuk

Leave a Reply