Visi Indonesia 2045, The World in 2050

by -

 

Jakarta,-

Menandai perayaan 100 tahun kemerdekaan Indonesia, Kementerian PPN/Bappenas menggelar perhelatan “Indonesia Vision 2045 dan The World in 2050”, dikemas secara talkshow dengan keynote speaker, Harinder S. Kohli, CEO of Centennial Group International, penulis buku The World in 2050. Karena dalam era globalisasi ini, pembangunan Indonesia tidak terlepas dari pengaruh dunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan dalam dunia luar akan memberikan dampak kepada Indonesia.

Perhelatan nantinya menampilkan tiga talenta kreatif Indonesia di bidang seni rupa, desain, dan arsitektur. Mereka adalah Priyaris Munandar (seniman), Tommy Ambiyo Tedji (desainer), dan Danny Wicaksono (arsitek). Selain tentunya dihadiri dari jaringan pemerintahan, pebisnis, pengusaha di bidang keuangan, infrastruktur, perwakilan negara-negara sahabat, dan instansi-instansi terkait yang merupakan stakeholders dari bagian perencanaan visi ini dan juga akan memberi peran dalam pengembangan visi ini ke depannya.

Mengenai Visi Indonesia 2045, Bappenas-lah menjadi pihak yang bertugas untuk merencanakan visi untuk seluruh bangsa Indonesia dan bukan hanya visi pemerintah. Karena itulah suatu program pembangunan harus bersifat antisipatif terhadap perubahan tren dunia supaya Indonesia menjadi lebih siap dalam menyambut perubahan tersebut.

Pada perencanaan jangka panjang tren dunia dan perubahannya tidak bisa disikapi secara reaktif yang akan membuat Indonesia menjadi tidak efektif dalam melakukan pembangunan nasional karena sifat reaktif tersebut akan membuat Indonesia keluar dari arah program pembangunan. Namun justru sebaliknya, Indonesia akan memberikan reaksi terhadap suatu perubahan tren dunia yang telah diantisipasi, di mana reaksi tersebut akan disesuaikan dengan arah pembangunan.

Sayangnya, perencanaan pembangunan saat ini belum dijadikan sebagai satu pedoman utama bagi Pemerintah. Meskipun terdapat RJPMN pada saat ini, Pemerintah Jokowi pun memiliki Nawacita yang dijadikan arah pembangunan pemerintahan Jokowi.

Oleh karenanya, Indonesia perlu suatu perencanaan jangka panjang yang berkesinambungan, keterlibatan seluruh pihak (inclusiveness), antisipasif, dan pedoman bagi semua. Perencanaan tersebut harus melihat secara jangka panjang dan menggunakan skenario yang ada. Janganlah pergantian rezim pemerintah di Indonesia kerap dijadikan suatu momentum yang mengubah arah pembangunan Indonesia.

Rezim pemerintah baru harus melanjutkan program pembangunan yang searah dan selaras dengan pemerintah yang sebelumnya. Hanya dengan memiliki suatu program pembangunan jangka panjang Indonesia dapat melaksanakan pembangunan nasional yang efektif dan efisien. Sehingga program pembangunan jangka panjang Indonesia harus dapat berlaku sebagai tongkat estafet yang dibawa oleh setiap rezim pemerintahan. Dan tinggal seberapa cepat rezim pemerintahan tersebut dapat berlari membawa tongkat estafet program pembangunan tersebut.

(ist;mdtj; foto ist

Leave a Reply