Tari Semara Ratih Tari Dewi Bulan Purnama

by -

Jakarta,-

“Ada bulan segede tempeh, mekenyor di langit e, di duur muncuk enyuh e ane elag-elog igel-igelan ngemendakin Dewi Ratih ….. Terang galang di gumi ne, terang galang di hati ne, sami pada girang, pade makenyum pasang-pasangan kesusupan Semara Ratih.”

Demikianlah lantunan syair lagu saat Tari Semara Ratih ditampilkan, tarian yang diciptakan Deniek Sukarya tersebut terinspirasi oleh suasana kegembiraan di pedesaan di Bali, ketika jaman sebelum listrik masuk ke desa-desa.

Di mana malam yang biasanya gelap gulita menjadi terang benderang dengan bulan ‘segede tempeh’ bergantung di langit. Malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh para muda-mudi itu untuk bermain bersama di perempatan jalan dan bergembira-ria.

Namun yang menarik dari tari Semara Ratih ini sekaligus dilukiskannya sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta disusupin rohnya Dewi Ratih, Sang Dewi Bulan Purnama. Lantas bagaimana akhirnya sang muda-mudi yang tengah jatuh cinta tersebut, tentulah berakhir dengan sebuah misteri hingga akhir pagelaran tari tersebut.

Tari Semara Ratih, Sanggar Seni Sukarya dengan Penata Tabuh, Deniek G. Sukarya, Penata Tari, Wayan Sumindra S.Sn. dan penari Putu Shinta Dewi Sandrina, Desak Putu Ari Kastanti, Putu LInda Sintyawati dan Kadek Ria Apratina telah meraih Juara 2 Katagori Sanggar pada National Folklore Festival X 2016 yang diselenggarakan oleh FEB Universitas Indonesia.

(ist/mdtj ;foto dok DS

Leave a Reply