Butik LeViCo Pusat Tenun Handmade "Semua Bisa Pakai Tenun NTT"

by -

Jakarta,-

Kegelisahannya melihat sulitnya para pengrajin tenun tradisional khas Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tersebar di seluruh etnis Flobamoratas (Flores-Sumba-Timor-Alor-Lembata dan Sabu),
mengembangkan kreasinya dan menjadikannya sebagai sumber ekonomi keluarga, mendorong perempuan Betawi peranakan Cina yang bersuamikan putera asli Kupang ini, bertekad keras untuk menjadikan Butik LeViCo sebagai ‘One Stop Service’ sekaligus Pusat Tenun Handmade khas NTT.

Adalah Julie S.Laiskodat, perempuan berputera tiga, yang ditengah kesibukannya mendampingi suaminya Viktor Bungtilo Laiskodat SH, melihat NTT yang begitu eksotik keindahan budayanya yang tertuang dalam tenunan tradisional yang begitu kaya makna, penuh corak dan warna dengan latar belakang kearifan lokal yang sarat tradisi. Namun hanya bisa dinikmati oleh kalangan masyarakat tertentu saja.

Oleh karenanya, dalam masa dua tahun terakhir setelah 15 tahun menelusuri, mendalami dan mempelajari secara seksama tenun tradisional khas NTT dari 22 Kabupaten yang ada, Julie pun bertekad untuk tidak saja memperkenalkan kain tenun tradisional khas NTT tetapi melalui strateginya yang ‘anti mainstream’, bahan tenun tradisional khas NTT sebagai identitas karyanya pun menjelma menjadi sejumlah fashion item yang fashionable sehingga lebih bernilai tambah.

Strategi anti mainstream inilah yang meski sempat ditentang oleh kalangan fashion Indonesia, terbukti tidak saja menempatkan kain tradisional khas NTT yang sarat budaya, makna serta kearifan lokal itu, menjadi hal yang siapapun bisa memakainya tanpa mengurangi keseluruhan makna yang terkandung didalamnya. Namun yang terpenting dan terutama, bahwa para pengrajin tenun khas NTT ini dapat mengembangkan kreasinya dari karya-karya budaya yang berkembang di masyarakatnya tapi sekaligus mampu menghidupi perekonomiannya.

Kini, melalui butik LeViCo yang berlokasi di jalan Wijaya II No.64 Kebayoran Baru, tidak saja dapat menjumpai keindahan warna, motif serta corak kain tenun handmade khas NTT yang langsung dari pengrajinnya di 22 Kabupaten yang ada. Tapi sekaligus juga mendapatkan tambahan pengetahuan tentang budaya, kekayaan kulinernya, tempat-tempat wisata serta kearifan lokal dari tradisi yang kuat mengakar didalamnya.

Para pengunjung pun dapat menyaksikan langsung bagaimana tenun khas NTT dibuat dengan alat tenun tradisional yang menggunakan tenaga manusia, sambil mendengarkan alunan indah musik Sasando seraya ditemani segelas kopi hangat NTT yang nikmat dan beraroma kuat itu. Selain tentunya pengunjung pun dapat berselfie dengan menggunakan pakaian adat khas Nusa Tenggara Timur.

Julie S.Laiskodat pun menyadari bahwa apa yang sudah dilakukannya karena semata kecintaannya pada masyarakat, budaya serta tradisi yang mengakar di NTT. Oleh karenanya untuk meregenerasi apa yang sudah dan akan terus dikerjakannya ini, dirinya melibatkan generasi muda NTT untuk mau berbuat, berkiprah dan mencintai daerahnya agar kemajuan pembangunan merata dirasakan masyarakat. Salah satunya dengan memperkenalkan kepada seluruh masyarakat Indonesia dan dunia melalui kain tenun tradisional khas Nusa Tenggara Timur, pungkas Ketua Iwapi Jakarta Selatan ini.

(mdtj; foto Muller

Leave a Reply