NusaLontar 10 Perupa NTT
Wajah Spirit Pancasila, Cinta NTT dan Indonesia

by -

Visual Indonesia, Jakarta,-

NusaLontar mengajak 10 perupa Nusa Tenggara Timur, untuk terus mengeksplor potensi serta menjawab tantangan NTT hari ini ke depan, melihat Spirit Pancasila, Cinta NTT dan Cinta Indonesia, melalui alam dan isinya. Walhasil goresan warna penuh kritik serta harapan melalui warna-warna yang kental dan berani semakin menunjukkan perupa NTT pantas menjadi mercusuar perupa dari timur Indonesia.

Melalui kebebasan dan kreativitasnya ke-10 perupa ini, beberapa di antaranya bisa disebut garda depan perupa NTT saat ini, melakukan pembacaan dan pendekatan kritik sosial yang berbeda-beda yang masih berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti Yopie “KNIL” Liliweri dengan karyanya Alea Jacta Est yang mengungkap maraknya kasus perdagangan manusia yang menimpa banyak tenaga kerja asa NTT di negeri tetangga.

Ada pula, perupa Apri Manu dengan karyanya “Kesunyian” memotret perjuangan hidup si tua nan miskin di tengah kota yang terus menggeliat. Atau karya tapestry “Wajah”, Pery Patemak, yang melihat kotanya, bahkan negerinya Indonesia terus bersolek, untuk menarik lawan jenis (baca investor) agar mau mengawininya.

Lain lagi karya Jacky Lau (Oyang), lewat “Murka Pantai # Demi Mimpi”, yang mneggambarkan amuk batinnya atas syahwat pembangunan yang membabi buta, yang telah menghabiskan pantai di kotanya. Lalu menyerahkan semuanya pada penghuni laut.

Sementara pendekatan warisan budaya dapat disimak atas karya Maryam Mukin “Maluk”, yang mengangkat tradisi pesta adat di kampung Saga Flores Timur dengan sudut pandang religiusitas Islam. Termasuk pula karya Aim Pranamantara “ Tuka Wing (Rahim) “ yang menjunjung tinggi perempuan. Dimana masyarakat Manggarai, menempatkan perempuan seperti soko guru bagi sebuah rumah. Disamping karya Fecky Messah “Mendayu Bonet” yang mengambil ide dari salah satu tarian tradisi Timor Dewan, mengisahkan pentingnya persatuan/ persaudaraan. Karya-karya Fecky yang lainnya pun sangat kental dengan warisan tradisi, yang dimaknai dengan konteks baru.

Hadir pula, perupa asal Malang, Tinik Royaniwati, yang telah lama menetap di Kupang, menggunakan pendekatan silang budaya Jawa – NTT, lewat buah karyanya “Tandak Kenoto”. Sebuah tari penerimaan tamu berasal dari daerah Rote, sebagai artefak kultural dua suku bangsa, yang dirawat turun temurun sebagai kekayaan budaya NTT.

Sebaliknya karya Ferry Wabang “Dalam Ikatan Melanesia”, yang mengingatkan pada warga NTT bahwa “kita” punya ikatan dengan ras Melanesia, dan oleh karena itu kenapa orang-orang NTT dan Papua, misalnya, punya ciri-ciri yang sama. Di sana juga ada tali emosi yang tidak mudah dipisahkan. Sedangkan perupa muda Allen Fernandez, dengan karya digital painting berjudul “Login”, menggunakan pendekatan maupun cara eksekusi kontemporer.

Yusuf Susilo Hartono, selaku kurator pameran NusaLontar, melihat bahwa karya-karya seni ini sebagai siasat untuk memantapkan, bisa juga mengubah persepsi sehari-hari, dan membukakan kemungkinan-kemungkinan baru dalam menafsirkan kenyataan yang ada, selaras dengan pandangan Heidegger. Bahkan Aristoles mengingatkan kita, bahwa tujuan seni bukanlah untuk menampilkan tampang luar berbagai hal, melainkan makna batinnya, tambah Yusuf, yang juga wartawan budaya serta perupa ini.

Oleh karenanya, Mikhael Fernandez, mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTT, menyatakan dalam sambutan tertulisnya berharap pameran ini merupakan media visual guna memberikan gambaran sosio-kultural daerah NTT yang kaya dengan keindahan alam, keunikan budaya material serta immaterial. Baik di atas kanvas, digital print maupun medium instalasi semoga menjadi sebuah apresiasi estetis bagi pecinta seni di metropolitan Jakarta.

Pameran dihelat atas kerjasama Dinas Kebudayaan Provinsi NTT dengan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), berlangsung di Galeri Cipta III TIM, 9-13 Juli 2017, yang akan diresmikan oleh salah satu tokoh pers asal NTT Don Bosco Selamun, Pemimpin Redaksi Metro TV, menampilkan sekitar 40-an karya tahun 2016-2017, berupa lukisan, sketsa, digital painting, hingga instalasi, yang menggunakan berbagai medium.

(a yen; foto ist

Leave a Reply