Menguak Tabir Cinta Terlarang
(Film Ave Maryam)

by -

Visualindonesia, Jakarta,-

Produksi:Pratama Pradana Picture;  Produser: Ertanto Robby Soediskam, Tia Hasibuan; Sutradara: Ertanto Robby Soediskam; Penulis cerita/skenario: Ertanto Robby Soediskam; Line Produser: Sandy Sofyan; Penata Kamera: Ical Tanjung; Penata Artistik: Allan Sebastian; Penata Suara: Khikmawan Santosa; Perekam Suara: Shaft Daultsyah; Penyunting Gambar: Wawan I Wibowo; Penata Rias: Didin Syamsudin; Penata Busana: Dame Sitorus;  Musik: RooftopSound; Post Production: PRODIGI HOUSE. Durasi: 73 menit: Distributor: Summerland. Pemain: Maudy Koesnaedi (Maryam), Tutie Kirana (Monic), Chicco Jerikho (Yosef), Joko Anwar (Martin), Olga Lydia (Mila), Nathania Angela Widjaja (Dinda), dan Febby (Rebeca).

Ketika film dimulai, pada layar tampak sosok seorang biarawati yang berdiri membelakangi penonton, membuka lebar – lebar pintu jendela tembus pandang, di atas air laut yang bergelombang. Kemudian ketika seorang biarawati mengibaskan kain sprei warna putih di jemuran, sutradara Ertanto Robby Soediskam pun mengawali cerita film Ave Maryam.

Film yang berintikan tentang cinta, kejujuran, dan pengabdian kepada kemanusiaan dalam kehidupan seorang biarawati yang mengabdikan dirinya, dengan melayani biarawati lansia, di sebuah biara di Semarang. Juga tentang konflik batin seorang biarawati yang mempertanyakan prinsip dan loyalitas dirinya pasca bertemu dengan seorang pastor.

Berbagai unsur dramatik yang ada itu, kemudian diungkapkan melalui teknik dan kreatifitas sinematik yang dikemas dengan sangat khas. Baik melalui dialog antarpemain, maupun gambar filmis yang tersaji. Bahkan Ertanto Robby Soediskam, sebagai sutradara dan penulis skenario, melalui karya penata kamera Ical Tanjung, berhasil menjadikan gambar filmis sebagai sarana bagi penonton, untuk “membaca pesan” yang tersirat dari film ini.

Berdasarkan semua itu, sungguh tepat bila kemudian film Ave Maryam dikatakan, merupakan film yang penuh dengan berbagai simbol, sebagai upaya “Menguak Tabir Cinta Terlarang” kedua tokoh utamanya. Mereka adalah suster dan pastor.

Dalam agama Katolik, suster dan pastor (romo) adalah pribadi-pribadi pengucap kaul kekal dan berjanji untuk hidup selibat (tidak menikah) di hadapan Tuhan. Oleh karenanya, cinta yang terjadi di antara keduanya adalah hal terlarang.

 

Sinopsis

Suster Maryam (Maudy Koesnaedi), adalah biarawati yang bertugas mengurusi para suster sepuh. Menjelang ulang tahunnya yang ke-40 Suster Maryam berusaha untuk terus memurnikan diri.

Suatu malam Romo Martin (Joko Anwar) datang ke susteran yang di pimpin oleh Suster Mila (Olga Lydia) untuk memperkenalkan Suster Monic (Tutie Kirana) sebagai penghuni baru susteran dan Romo Yosef (Chicco Jerikho), yang akan menetap di kota itu.

Suster Mila sebagai penanggung jawab susteran menyambut gembira, apalagi Romo Martin menjanjikan bahwa Romo Yosef akan mengajari bermain orchestra.

Keahlian Romo Yosef dalam bermain musik membuat Suster Maryam jatuh hati. Suster Monic sebagai suster yang sudah berpengalaman mencoba menasihati Romo Yosef, namun hasrat terus tumbuh. Keduanya menjalin hubungan diam-diam. Suster Maryam menghadapi dua pilihan: bertahan pada kaulnya atau memilih Romo Yosef.

 

Pesan yang Tersirat 

Itulah cerita film Ave Maryam. Cerita yang sangat sederhana. Walaupun begitu, pada kenyataannya film Ave Maryam tidak sesederhana ceritanya. Film yang penuh pesan, baik yang tersirat melalui berbagai adegan atau melalui dialog antarpemainnya.

Melalui Suster Maryam, penonton diisyaratkan bahwa film itu berkisah tentang Maryam, sebagai seorang manusia biasa yang bisa jatuh cinta.

Maryam dengan rutinitasnya sebagai suster yang merawat para suster lansia, digambarkan menyimpan dalam-dalam, hasrat dan gairah dalam dirinya. Tetapi setelah kehadiran Romo Yosef dalam hidup Suster Maryam, menjadikan hasrat dan gairah itu bergelora kembali, ibarat ombak laut yang sedang pasang.

Keduanya terus menjalin interaksi dan sering berdiskusi. Akibatnya membuat Suster Maryam mulai ragu akan komitmen hidupnya.

Namun demikian, Suster Maryam dan Romo Yosef, terikat pada kaul masing-masing. Karena itu film Ave Maryam juga menekankan tentang kesetiaan pada tekad hidup mereka. Yakni, masing-masing tetap menjadi biarawati dan pastor.

Film Ave Maryam juga menyampaikan pesan melalui dialog pemainnya, yang bisa dijadikan sarana perenungan. Karena itu, ada kalimat bijak yang disampaikan melalui dialog pemain, dengan gaya bertutur paradoksal (kontradiksi), sebagai stressing (penekanan).

Seperti, saat Suster Monic mengatakan: “Jika surga saja belum pasti untukku, buat apa nerakamu menjadi urusanku?” Serta kalimat “Rahasiakan ibadahmu sebagaimana kamu merahasiakan aib-aibmu”, kepada Suster Maryam, saat Suster Monic mengetahui apa yang terjadi pada Suster Maryam.

Serta dialog antara Romo Yosef dangan Suster Maryam: “Saya ingin mengajak kamu keluar mencari hujan di tengah kemarau”, yang selain untuk direnungkan, juga memiliki makna bahwa selama ini, Suster Maryam sangat awam pada kehidupan di luar biara.

 

Pola Ungkap

Cerita film Ave Maryam dimulai dengan menggambarkan kehidupan Suster Maryam, seorang biarawati yang mengabdikan dirinya untuk mengurus biarawati lansia, di Semarang.

Toleransi beragama juga diketengahkan dalam film ini, melalui beberapa adegan sederhana. Yaitu, kehadiran sosok anak kecil berhijab yang rutin mengantar susu ke susteran dan rantang makanan ke pasturan.

Pribadi Suster Maryam yang cenderung pendiam, digambarkan sebagai seorang yang sesungguhnya berpikiran bebas dan sedang mencari arti kebahagiaan dalam hidupnya. Hal ini disimbolkan melalui adegan saat Suster Maryam membuka jendela dan menemukan hamparan air laut yang bergelombang.

Keseharian Suster Maryam yang positif digambarkan seperti, memandikan lansia, beribadah di gereja, dan hobi membaca. Juga ada informasi bahwa Maryam menyimpan buku, dengan judul dan gambar sampul yang tidak biasa.

Di sana juga ada informasi bahwa Suster Monic lah, yang telah membesarkan Romo Yosef.

Rutinitas Suster Maryam yang terkesan datar, kemudian berubah, seiring dengan kehadiran Romo Yosef, yang mengajak Maryam melihat hal baru dan menunjukkan kemampuannya sebagai mentor musik gereja.

Puncak konflik terjadi saat Maryam dan Yosef terlibat cinta terlarang. Pergulatan batin antara prinsip yang harus dipegang dan mengikuti kata hati, terjadi pada keduanya, setelah menyadari apa yang telah mereka lakukan berdua.

 

Artistik

Menata artistik sebuah film tentang biara dan kehidupan di susteran kurun waktu tahun 1990-an, pasti gampang-gampang susah. Meskipun begitu, Allan Sebastian, penata artistik film Ave Maryam, tampaknya tidak menghadapi kendala yang serius.

Sehingga untuk film yang mengambil setting tempat di Kota Lama Semarang dan Yogyakarta ini, Allan Sebastian tidak perlu mencari sesuatu yang lain.

Boleh jadi, karena Allan Sebastian cukup mampu “mengendalikan” bentuk dan warna yang ada di sana, khususnya untuk setting lokasi kawasan Kota Lama Semarang, Greja Blenduk, dan Lawang Sewu di Semarang, yang tentunya telah disesuaikan dengan keperluan pada konsep tata visualnya.

Hal lain yang perlu dicatat secara khusus adalah, efek hujan yang ada dalam film ini. Tampak sekali adegan hujan tersebut merupakan buah tangan tim kerja yang cukup andal di bidangnya. Bagaimana tidak. Tata cahaya bagi set eksterior malam pada kenyataannya sudah cukup sulit, tanpa hujan sekalipun.

Kenyataannya adegan hujan di malam hari, menjelang “surprise” ulang tahun Suster Maryam ke-40 di susteran, merupakan salah satu hasil yang memuaskan dalam film ini.

 

Musik

Musik sebagai medium yang mampu menjadi bahasa universal bagi penampilan suatu ide atau gagasan, amatlah sayang apabila hadir hanya sebagai ilustrasi semata-mata. Kehadiran lagu tema film ini, tidak demikian adanya. Karena kehadirannya tidak hanya sebagai ilustrasi musik semata-mata. Bahkan lagu tema yang selaras dengan gambar-gambar film ini, telah berperan sebagai sarana bagi penonton untuk “hanyut” ke dalam suasana batin Maryam yang diterpa godaan untuk setia pada kaulnya, saat Romo Yosef hadir.

Tidak hanya itu. Bahkan ada lagu yang seolah ikut berperan dalam “menggedor” perasaan Suster Maryam terhadap Romo Yosef, setelah Suster Maryam menyaksikan Romo Yosef, bermain orchestra bersama kelompok musik dan paduan suara. Keahlian Romo Yosef dalam bermain musik membuat Suster Maryam jatuh hati.

 

Karakter

Karakter para tokoh dalam film Ave Maryam merupakan gambaran berbagai pribadi yang tidak biasa dalam keseharian yang ada di sekitar kita. Mengingat mereka sebagai biarawati Katolik di salah satu biara di Semarang.

Paling menyolok tentu saja penampilan sang tokoh utama, Maudy Koesnaedi, yang pantas untuk diacungi jempol. Karena kemampuannya sebagai perwujudan Suster Maryam yang mengesankan “kesepian” dalam hidupnya.

Suster Maryam lebih senang merenung dan irit bicara, tetapi gemar membaca. Sehari-hari berpakaian jauh dari kesan menarik. Hanya berwarna abu-abu, dan putih.

Begitu juga dengan Chicco Jerikho yang berperan sebagai Romo Yosef, cukup mampu mengimbangi penampilan Maudy Koesnaedi sebagai Suster Maryam, sehingga permainan tidak berat sebelah.

Dalam film ini, karakter yang diperankan Chicco Jerikho muncul dengan baju basah, di saat derasnya hujan turun. Apalagi Romo Yosef memiliki keahlian bermusik, tegap, tinggi, dan berwajah tampan.

Ada lagi yang sangat mengesankan dalam film ini. Hadirnya lewat karakter peran pendukung, Suster Monic oleh Tutie Kirana. Hal Itu tergambar dalam sebuah dialog saat Suster Monic mengetahui apa yang terjadi pada Suster Maryam dengan Romo Yosef.

“Jika surga saja belum pasti untukku, buat apa nerakamu menjadi urusanku?” Serta kalimat “Rahasiakan ibadahmu sebagaimana kamu merahasiakan aib-aibmu”, kepada Suster Maryam.

Dalam hal itu Suster Monic, adalah tokoh pembawa kebajikan dan kebijakan. Karena Suster Monic bukan memberi nasihat atau menyalahkan, tetapi lebih memilih untuk menyerahkan persoalan itu, sebagai pilihan dan tanggung jawab Suster Maryam pribadi.

Dalam film ini pun ada yang cukup menyita perhatian. Ketika dikemukakannya semangat toleransi beragama, melalui beberapa adegan sederhana. Ialah dengan kehadiran sosok anak kecil berhijab, Dinda, yang diperankan oleh artis cilik Nathania Angela Widjaja.

Dinda yang rutin mengantar susu ke susteran itu pun selalu menyampaikan salam, Assalamualaikum kepada Suster Maryam.

 

Tata Kamera

Mengamati angle-angle yang disajikan, tampak sekali Ical Tanjung dalam film ini menampilkan kebolehannya sebagai penata kamera, berkarya secara optimal. Sehingga framing yang dicapai betul-betul mampu mewakili obyek sasaran yang diperlukan.

Seperti, setting lokasi kawasan Kota Lama Semarang, Greja Blenduk, dan Lawang Sewu di Semarang, benar-benar mendapat porsi dalam komposisi cantik dan warna-warni yang indah.

Bahkan buah karya Ical Tanjung, berhasil menjadikan gambar filmis sebagai sarana bagi penonton, untuk “membaca pesan” yang tersirat dari film ini.

Setidaknya, seperti yang terjadi pada dua adegan, ketika Suster Maryam menyaksikan Romo Yosef sedang bermain orchestra, bersama kelompok musik dan paduan suara.

Adegan pertama, pada posisi kamera establish ketika lagu “Here I am, Lord” dimainkan di sebuah ruangan, terlihat Suster Maryam menyaksikan hanya dari balik pembatas ruangan.

Pada adegan yang lain, melalui camera subyektif, terlihat Romo Yosef bersama orchestra-nya memainkan lagu “Shalom Alehem”, Suster Maryam pun ada di ruangan yang sama.

Ternyata musik yang tersaji pada kedua adegan tersebut, ikut berperan dalam “menggedor” perasaan Suster Maryam terhadap Romo Yosef. Keahlian Romo Yosef dalam bermain musik, membuat Suster Maryam larut dalam kedamaian pada irama musik, dan jatuh hati.

Pada adegan yang lain lagi, ketika Romo Yosef dan Suster Maryam di dalam mobil, sepulang dari pantai setelah merayakan HUT ke-40 Suster Maryam, terlihat Rosario yang tergantung di kaca spion, bergoyang-bergoyang. Gambar filmis itu, dapat ditafsirkan sebagai goyahnya jiwa mereka.

Meskipun penataan cahaya yang redup, cenderung agak gelap pada beberapa adegan, merupakan tantangan tersendiri bagi Ical Tanjung, tetapi hal itu malahan berhasil menambah bobot cerita secara mantap, karena sejalan dengan perwujudan suasana batin Suster Maryam yang “kesepian”. Sempat terjebak dalam keraguan komitmen hidup dan jiwa yang goyah.

 

Catatan

Pada satu sisi, sutradara Ertanto Robby Soediskam, telah berhasil mewujudkan suasana susteran seperti apa adanya. Sunyi, karena penghuninya berkarya dalam keheningan dan minim dialog.

Tetapi pada sisi lain, ketika pengambilan gambar filmis pada posisi kamera yang statis untuk shot-shot panjang, tentu saja akan menyeret dan terjebak ke dalam irama film yang lamban.

Walaupun begitu, ditangan Wawan I Wibowo, sang editor, melalui transisi adegan maupun shot, yang dibina dengan motivasi gerak para pemain, irama film yang lamban itu, tidak membosankan jadinya.

Ada beberapa yang mengganjal dalam benak, karena itu perlu di sampaikan sebagai pertanyaan yang mendasar. Seperti, mengapa dalam durasi yang setidaknya 73 menit itu, ada kesan kurangnya informasi tentang Suster Maryam, secara keseluruhan?

Meskipun melalui visual terlihat Suster Maryam, secara detail, meninggalkan susteran dengan menenteng koper, pergi ke stasiun kereta api, duduk sebentar di dalam gerbong, kembali ke susteran setelah melihat bayangan Romo Yosef dari balik jendela rangkain kereta api. Tetapi  tidak ada informasi lanjutan, ke mana Suster Maryam akan pergi atau pulang kampung?

Pada adegan yang lain, ketika Suster Maryam duduk di dalam mobil, sepulang dari pantai, terkesan rambut Suster Maryam dalam keadaan basah. Memang, setelah adagen itu, ada kilas balik Suster Maryam dalam komposisi Medium Close-Up (MCU), saat Suster Maryam tidur dan dalam komposisi Medium Shot (MS), ketika Suster Maryam berdiri di pantai. Sayang insert itu, malahan semakin menimbulkan pertanyaan bagi penonton awam.

Juga pertanyaan menyangkut dipakainya mobil setir kiri dalam film ini. Apakah untuk memenuhi tuntutan screen direction? Atau karena memang yang tersedia hanya mobil Datsun Long 70 itu?

Meskipun ada beberapa pertanyaan, tetapi harus diakui bahwa kerja sama yang baik antara sutradara, juru kamera dan penata artistik, telah memberikan hasil yang cukup baik. Apalagi dipadu dengan editing dan tata suara yang cermat, telah memberikan hasil akhir yang memuaskan secara visual bagi film Ave Maryam.

Pekerjaan yang tidak mudah memang.

(Hardo Sukoyo; foto ist

Leave a Reply